Karya Indonesia — Negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton selama 21 jam sejak Sabtu (11/4/2026) berakhir tanpa kesepakatan. Kedua pihak pun saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan Iran menolak syarat utama yang diajukan, termasuk komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
“Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan, dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi Amerika Serikat,” ujar Vance.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menilai perundingan berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan yang tinggi.
“Wajar jika kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan hanya dalam satu sesi,” katanya, dikutip media Iran.
Trump Ancam Blokade Selat Hormuz
Di tengah kebuntuan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras dengan mengancam akan memblokade Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan mencegat kapal-kapal yang membayar biaya kepada Iran untuk melintas di selat tersebut.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulisnya melalui media sosial Truth Social.
Selain itu, AS juga disebut akan melakukan operasi pembersihan ranjau laut di kawasan tersebut sebagai bagian dari langkah pengamanan jalur pelayaran strategis.
Ancaman ini berpotensi meningkatkan eskalasi di kawasan, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20 persen minyak dunia.
Di tengah meningkatnya ketegangan global, India juga menghadapi isu keamanan di wilayahnya. Pemerintah setempat dikabarkan tengah mengkaji proposal tidak lazim untuk menjaga perbatasan dengan Bangladesh.
Otoritas mempertimbangkan penggunaan buaya dan ular berbisa sebagai penghalang alami di sepanjang jalur sungai yang sulit dipasangi pagar permanen.
Usulan tersebut, menurut laporan media The Independent, sedang dibahas oleh Border Security Force (BSF) sebagai solusi alternatif di wilayah rawan banjir dan rawa.
Dari total sekitar 853 kilometer perbatasan yang belum dipagari, sekitar 177 kilometer dinilai tidak memungkinkan untuk pembangunan infrastruktur permanen karena kondisi geografis yang dinamis.
Kegagalan negosiasi AS–Iran dan munculnya langkah-langkah ekstrem di berbagai kawasan menunjukkan meningkatnya ketegangan geopolitik global, yang berpotensi berdampak pada stabilitas keamanan dan ekonomi dunia dalam waktu dekat.
