Karya Indonesia — Administrasi Maritim Kementerian Perhubungan Amerika Serikat (AS) mengeluarkan imbauan kepada kapal-kapal berbendera AS yang melintasi Selat Hormuz agar menjauh sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran.
Langkah ini diambil untuk meminimalkan risiko keamanan di tengah meningkatnya ketegangan regional.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin (9/2), Administrasi Maritim AS meminta kapal-kapal komersial Amerika menghindari wilayah perairan Iran tanpa mengorbankan keselamatan navigasi.
“Diimbau agar kapal-kapal komersial berbendera AS yang melintasi perairan ini tetap berada sejauh mungkin dari laut teritorial Iran tanpa membahayakan keselamatan navigasi,” demikian pernyataan tersebut, seperti dikutip Anadolu Agency.
Pedoman itu juga merekomendasikan agar kapal yang berlayar ke arah timur di Selat Hormuz melintas dekat laut teritorial Oman.
Administrasi Maritim AS mengingatkan bahwa kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman selama ini menghadapi risiko tinggi.
“Kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman telah lama berisiko dicegat, diperiksa, dinaiki, ditahan, atau disita oleh pasukan Iran,” lanjut pernyataan tersebut.
Dalam pedoman keselamatan itu, awak kapal juga diminta untuk menyebutkan nama kapal dan negara bendera apabila ditanya oleh pasukan Iran.
Mereka diminta menegaskan bahwa pelayaran dilakukan sesuai hukum internasional serta tidak memberikan izin kepada pasukan Iran untuk menaiki kapal.
“Jika pasukan Iran menaiki kapal komersial berbendera AS, awak kapal tidak boleh melakukan perlawanan. Menahan diri dari perlawanan tidak berarti menyetujui atau mengakui tindakan tersebut,” demikian isi pedoman, seperti dikutip Al Jazeera.
Imbauan ini muncul setelah Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan tidak langsung di Oman pada Jumat (6/2), menyusul eskalasi ketegangan dalam beberapa waktu terakhir.
Washington sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan aksi militer apabila Teheran tidak melanjutkan perundingan dan mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.
Sementara itu, Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu kawasan paling rawan konflik di Timur Tengah. Pada Juni tahun lalu, saat Israel melancarkan serangan terhadap Iran, parlemen Iran bahkan sempat menyarankan penutupan Selat Hormuz—jalur pelayaran utama yang menghubungkan Teluk Persia dan Samudra Hindia.
Pemerintah AS menyebut Selat Hormuz sebagai “jalur minyak terpenting di dunia”, mengingat posisinya yang strategis sebagai pintu utama distribusi energi global.
