Karya Indonesia — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat. Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps) dilaporkan menggelar serangkaian latihan militer di Selat Hormuz, menyusul situasi geopolitik yang kian memanas di kawasan tersebut.
Media pemerintah Iran melaporkan pada Senin bahwa durasi latihan tidak disebutkan secara rinci.
Namun, pemerintah Iran menyatakan latihan tersebut bertujuan untuk mempersiapkan IRGC menghadapi “potensi ancaman keamanan dan militer” di jalur laut strategis tersebut.
“Latihan ini, yang diawasi langsung oleh Kepala Garda Jenderal Mohammad Pakpour, bertujuan meningkatkan kemampuan IRGC dalam merespons secara cepat berbagai kemungkinan ancaman,” tulis media Iran, sebagaimana dikutip AFP, Selasa (17/2/2026).
Latihan militer ini berlangsung di tengah pengerahan besar-besaran kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Washington telah mengirimkan dua kapal induk, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford ke wilayah tersebut.
Selain itu, citra satelit menunjukkan penambahan artileri serta jet tempur di sejumlah pangkalan utama negara Arab yang menampung pasukan AS, termasuk di Qatar.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis dunia yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Sejumlah politisi garis keras Iran sebelumnya berulang kali mengancam akan memblokir selat ini apabila Teheran diserang.
Di sisi lain, latihan militer IRGC juga berlangsung saat Teheran dan Washington bersiap menggelar putaran baru pembicaraan nuklir di Jenewa, Selasa ini, yang dimediasi oleh Oman.
Kedua negara, yang telah bermusuhan selama lebih dari empat dekade, kembali melanjutkan diskusi setelah pertemuan terakhir pada 6 Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menekan Iran agar segera mencapai kesepakatan dengan Washington. Tekanan tersebut juga disampaikannya saat bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington pekan lalu.
Sementara itu, Iran menyatakan tengah mengupayakan kesepakatan nuklir baru yang memberikan manfaat ekonomi bagi kedua negara. Hal ini disampaikan Wakil Direktur Diplomasi Ekonomi Kementerian Luar Negeri Iran, Hamid Ghanbari, seperti dimuat Reuters.
“Demi keberlanjutan kesepakatan, sangat penting bahwa Amerika Serikat juga memperoleh manfaat ekonomi yang cepat dan signifikan,” ujar Ghanbari.
Ia menyebut kerja sama di sektor minyak dan gas, ladang migas bersama, investasi pertambangan, hingga pembelian pesawat terbang sebagai bagian dari agenda negosiasi. Menurutnya, kesepakatan nuklir 2015 gagal memberikan keuntungan ekonomi nyata bagi AS.
Pandangan serupa juga disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi”], yang mengisyaratkan kesiapan Teheran untuk berkompromi terkait program nuklirnya sebagai imbalan pencabutan sanksi.
“Bola sekarang berada di tangan Amerika Serikat untuk membuktikan bahwa mereka benar-benar menginginkan kesepakatan,” ujarnya, dikutip BBC.
Sementara itu, kepala organisasi nuklir Iran menyatakan pada Senin bahwa negaranya bersedia mengurangi tingkat pengayaan uranium tertinggi sebagai bentuk fleksibilitas, dengan syarat sanksi internasional dicabut.
Namun, Iran menegaskan tidak akan menerima kebijakan nol pengayaan uranium, jika Washington tetap menganggap pengayaan di dalam negeri sebagai jalur menuju senjata nuklir.
