Karya Indonesia – Para astronom berhasil merekam gambar permukaan matahari dengan resolusi tertinggi yang pernah diperoleh hingga saat ini. Hasil pengamatan tersebut memperlihatkan struktur plasma panas yang membentuk pola berputar menyerupai pusaran air.
Pengamatan dilakukan menggunakan Daniel K. Inouye Solar Telescope di Hawaii, Amerika Serikat. Gambar dan rekaman selang waktu yang dihasilkan memperlihatkan struktur pusaran plasma dengan ukuran sekitar 19 hingga 170 kilometer.
Fenomena tersebut menarik perhatian para ilmuwan karena pola melingkar yang terlihat bukan sekadar bentuk acak. Para peneliti mengidentifikasinya sebagai Kelvin-Helmholtz instability (KHI), yaitu ketidakstabilan yang dapat muncul ketika dua aliran fluida atau gas bergerak dengan kecepatan berbeda.
Seperti dilansir Reuters pada 5 Agustus 2026, temuan tersebut memberikan kesempatan bagi ilmuwan untuk mengamati secara lebih dekat dinamika plasma di permukaan Matahari.
Pusaran Terbentuk dari Dua Aliran Plasma
Astronom Friedrich Wöger dari National Solar Observatory menjelaskan bahwa pertemuan dua aliran dengan kecepatan berbeda dapat menciptakan kondisi tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut kemudian berkembang menjadi pola gelombang dan pusaran.
“Antarmuka tersebut dapat menjadi tidak stabil dan membentuk pusaran seperti gelombang yang semakin besar hingga akhirnya pecah, tidak seperti gelombang di danau atau lautan ketika diterpa angin,” jelas Wöger.
Namun, fenomena di Matahari memiliki karakteristik yang jauh berbeda dari gelombang di Bumi. Plasma yang diamati memiliki suhu sekitar 6.000 Kelvin atau 5.540 derajat Celsius dan bergerak dalam lingkungan yang dipengaruhi medan magnet sangat kuat.
“Perbedaannya dengan gelombang dan awan yang kita kenal di Bumi adalah bahwa dua fluida yang saling berinteraksi tersebut merupakan plasma panas,” ujar Wöger.
Menurut para peneliti, keberhasilan mengidentifikasi KHI pada permukaan sebuah bintang merupakan pencapaian penting dalam penelitian fisika Matahari.
Wöger bahkan menyebut temuan tersebut sebagai “a true game-changer”, karena berpotensi mengubah pemahaman ilmuwan mengenai mekanisme perpindahan energi dari permukaan Matahari menuju atmosfernya.
Peneliti lainnya, David Kuridze dari National Solar Observatory, mengatakan Matahari merupakan sistem yang sangat dinamis. Berbagai aktivitas eksplosif dapat terjadi akibat interaksi medan magnet dan plasma.
Bagaimana tepatnya ledakan tersebut dimulai masih menjadi salah satu pertanyaan besar dalam penelitian fisika Matahari.
“Matahari dan bintang-bintang yang mirip Matahari merupakan sistem yang sangat dinamis, yang ditandai oleh berbagai macam peristiwa cepat dan eksplosif di dalam unsur-unsur magnetiknya. Bagaimana ledakan-ledakan tersebut dipicu merupakan salah satu tantangan utama dalam bidang fisika Matahari modern,” kata Kuridze.
Para ilmuwan menduga gerakan berputar yang dihasilkan oleh KHI dapat berperan dalam mengakumulasi energi magnetik secara bertahap. Energi tersebut kemudian berpotensi berkontribusi terhadap terjadinya solar flare atau semburan Matahari dan coronal mass ejection (CME), yakni lontaran besar plasma bermuatan beserta medan magnet dari Matahari.
Penelitian mengenai aktivitas Matahari tidak hanya penting untuk memahami proses yang berlangsung di dalam bintang terdekat dengan Bumi tersebut. Ledakan dan aktivitas magnetik Matahari juga dapat memengaruhi lingkungan antariksa di sekitar Bumi.
Gangguan akibat aktivitas Matahari berpotensi berdampak pada berbagai teknologi, termasuk satelit, navigasi GPS, jaringan listrik, serta sistem komunikasi.
Karena itu, pemahaman lebih baik mengenai bagaimana energi magnetik terbentuk dan dilepaskan dapat membantu ilmuwan meningkatkan kemampuan dalam mempelajari dan memprediksi cuaca antariksa.
Selain penting secara ilmiah, gambar yang dihasilkan teleskop tersebut juga menarik perhatian karena bentuknya yang menyerupai karya seni.
Kuridze membandingkan pola pusaran plasma yang terlihat dengan karakter visual dalam lukisan The Starry Night karya Vincent van Gogh dan karya The Great Wave off Kanagawa oleh Hokusai.
Perbandingan tersebut menggambarkan bagaimana pola-pola alami yang muncul dari dinamika fluida dan energi dapat memiliki kemiripan dengan bentuk yang dihasilkan manusia melalui seni.
Temuan mengenai KHI tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature. Para peneliti berharap pengamatan beresolusi tinggi ini dapat membuka pemahaman baru mengenai pergerakan energi dan medan magnet di permukaan Matahari serta kaitannya dengan aktivitas Matahari yang berpotensi memengaruhi kehidupan dan teknologi di Bumi.
