Karya Indonesia, Bojonegoro – Hama tikus yang kerap menjadi ancaman serius bagi hasil panen padi kini mulai bisa dikendalikan dengan cara kreatif oleh petani di Kecamatan Ngraho, Kabupaten Bojonegoro.
Mereka memanfaatkan jaring perangkap yang dipasang di area persawahan untuk mengurangi populasi tikus.
Metode ini cukup sederhana namun efektif. Jaring dipasang di jalur pergerakan tikus, lalu dilapisi dengan oli gardan atau serbuk racun.
Saat tikus menabrak jaring, tubuhnya akan terkena bahan tersebut dan tidak dapat bertahan lama. Cara ini dinilai lebih efisien dibanding hanya mengandalkan racun atau perburuan manual.
“Kalau hanya pakai racun, seringkali tidak efektif. Dengan jaring, tikus bisa langsung terperangkap dan petani lebih mudah mengendalikan jumlahnya,” ujar Muhammad Minan, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Ngraho, Kamis (4/9).
Selain pemasangan jaring, petani juga melakukan langkah tambahan, seperti pengumpanan dengan racun tikus hingga membongkar sarang-sarang tikus di sekitar lahan. Meski melelahkan, upaya ini dianggap penting demi menjaga keberhasilan panen.
“Inovasi sederhana ini lahir dari kebutuhan. Kalau panen gagal, keluarga ikut susah. Jadi kami berusaha dengan berbagai cara agar sawah tetap bisa menghasilkan,” tambah Minan.
Gotong royong antarpetani pun menjadi kunci keberhasilan. Mereka saling membantu memasang jaring maupun melakukan perburuan tikus bersama-sama. Harapannya, metode ini mampu menekan kerugian dan meningkatkan produktivitas padi di wilayah Ngraho.
