Karya Indonesia – Sebuah studi ekonomi terbaru memperingatkan potensi krisis besar bagi Israel apabila rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza gagal diterapkan.
Studi tersebut menyebutkan bahwa kegagalan melaksanakan proposal 20 poin Trump bisa menyeret Israel ke dalam isolasi internasional, defisit besar, dan penurunan tajam standar hidup.
Laporan itu diterbitkan oleh Aharon Institute for Economic Policy di Reichman University, dan dikutip oleh harian bisnis Calcalist. Dalam temuan utamanya, para peneliti menggambarkan tiga skenario buruk yang dapat dihadapi Israel jika konflik terus berlanjut.
“Pendudukan penuh atas Gaza akan mengakibatkan isolasi internasional, defisit keuangan yang besar, dan penurunan tajam standar hidup,” bunyi laporan tersebut, dikutip dari Middle East Monitor.
Menurut studi itu, hanya implementasi penuh proposal perdamaian 20 poin Trump yang dapat menghentikan spiral negatif perekonomian Israel.
Proposal tersebut, kata para peneliti, menjadi satu-satunya jalan untuk “mengembalikan Israel ke jalur yang benar” dengan menghentikan pertempuran dan menstabilkan kondisi ekonomi nasional.
Studi juga menyoroti bahwa dua tahun setelah serangan Hamas yang memicu perang, Israel masih belum mampu memulihkan diri dari “kegagalan keamanan terburuk sejak berdirinya negara tersebut.”
Meskipun rencana Trump menunjukkan tanda-tanda kemajuan, konflik di Gaza masih terus berlanjut. Trump, melalui unggahan di Truth Social pada Senin (6/10), memperingatkan kedua pihak untuk segera melaksanakan kesepakatan damai.
“Waktu sangat penting, atau pertumpahan darah besar akan terjadi—sesuatu yang tak ingin dilihat siapa pun,” tulis Trump dengan huruf kapital khasnya.
Trump mengklaim telah terjadi “diskusi positif” dengan Hamas dan sejumlah negara Arab terkait rencana perdamaian tersebut. Ia juga menyebut fase pertama rencana damai akan difokuskan pada pembebasan sandera Israel di Gaza.
Menurut laporan, Hamas telah menyetujui beberapa poin penting, termasuk penghentian perang, penarikan pasukan Israel, pembebasan tahanan dari kedua pihak, serta jaminan tidak ada pengusiran warga Palestina dari Gaza.
Namun, meski ada tanda-tanda diplomasi, situasi di lapangan tetap memanas. Beberapa jam setelah peringatan Trump, Israel dilaporkan melanjutkan pengeboman di Gaza yang menewaskan enam orang.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan optimisme bahwa pembebasan seluruh sandera akan segera diumumkan.
“Kita berada di ambang pencapaian besar. Saya berharap dalam beberapa hari mendatang, masih selama hari raya Sukkot, saya dapat mengumumkan kembalinya semua sandera kita, baik yang hidup maupun yang gugur,” kata Netanyahu dalam pesan video berbahasa Ibrani.
Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik diri sepenuhnya dari Gaza. Ia menekankan, militer Israel (IDF) akan tetap menjaga wilayah yang telah dikuasai dan berkomitmen melucuti Hamas, baik melalui jalur diplomasi sesuai rencana Trump atau lewat operasi militer.
“Hamas akan dilucuti—baik secara diplomatis maupun militer. Ini akan terjadi dengan cara mudah atau sulit,” tegas Netanyahu.
