Karya Indonesia — Presiden AS, Donald Trump mengklaim bahwa kesepakatan baru yang tengah dinegosiasikan dengan Iran akan jauh lebih baik dibandingkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditandatangani pada 2015 di era Barack Obama.
Melalui pernyataan di media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa kesepakatan yang sedang dirancang pemerintahannya akan memberikan jaminan keamanan yang lebih kuat.
“Kesepakatan yang sedang kita buat dengan Iran akan jauh lebih baik daripada JCPOA,” tulis Trump, seperti dilaporkan Anadolu Agency, Selasa (21/4/2026).
Trump bahkan menyebut JCPOA sebagai “jalan pasti menuju senjata nuklir” bagi Iran. Ia menegaskan bahwa skenario tersebut tidak akan terjadi di bawah kepemimpinannya.
Trump juga mengklaim bahwa keputusannya pada 2018 untuk menarik Amerika Serikat dari JCPOA telah mencegah potensi penggunaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah, termasuk terhadap Israel dan pangkalan militer AS.
Menurutnya, jika kesepakatan baru tercapai, hal itu akan menjamin perdamaian dan keamanan tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga di kawasan global.
“Itu akan menjamin perdamaian, keamanan, dan keselamatan, tidak hanya untuk Israel dan Timur Tengah, tetapi juga untuk Eropa, Amerika, dan seluruh dunia,” tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan menjelang rencana perundingan lanjutan antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Trump mengungkapkan bahwa delegasi AS akan diberangkatkan untuk melanjutkan negosiasi, meskipun pihak Iran belum secara resmi mengonfirmasi keikutsertaannya. Teheran sendiri disebut masih menuntut pencabutan blokade laut yang diberlakukan Washington.
Dalam pernyataan terpisah, Trump menegaskan dirinya tidak berada di bawah tekanan untuk mencapai kesepakatan. Namun, ia mengklaim bahwa blokade yang diterapkan AS saat ini memberikan tekanan besar terhadap Iran.
“Blokade ini benar-benar menghancurkan Iran dan tidak akan dicabut sampai ada kesepakatan,” ujarnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi masih terbuka, ketegangan antara AS dan Iran tetap tinggi, dengan negosiasi yang berjalan di bawah bayang-bayang tekanan militer dan ekonomi.
