Karya Indonesia — Wakil Presiden Iran, Mohammad Reza Aref, memperingatkan bahwa keamanan di Selat Hormuz tidak dapat dijamin jika ekspor minyak Iran terus dibatasi.
“Tidak seorang pun dapat membatasi ekspor minyak Iran sambil mengharapkan keamanan bebas bagi pihak lain,” ujar Aref melalui platform X, Senin (20/4).
Ia menegaskan bahwa stabilitas di jalur pelayaran strategis tersebut bukanlah sesuatu yang bisa diberikan secara cuma-cuma.
“Keamanan Selat Hormuz tidaklah gratis,” tambahnya.
Aref menyebut dunia kini dihadapkan pada dua pilihan: mempertahankan pasar minyak global yang terbuka atau menghadapi konsekuensi biaya besar akibat ketegangan geopolitik.
Menurutnya, stabilitas harga energi global sangat bergantung pada penghentian tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran serta sekutunya secara berkelanjutan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah negara di kawasan yang menampung aset militer AS.
Konflik tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum akhirnya disepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April, yang dimediasi oleh Pakistan.
Meski gencatan senjata sempat tercapai, upaya diplomasi belum membuahkan hasil konkret. Perundingan pada 11–12 April berakhir tanpa kesepakatan, dan kedua pihak kini bersiap melanjutkan dialog di Islamabad pada Selasa (21/4).
Di sisi lain, AS telah memberlakukan blokade laut terhadap Iran sejak 13 April, yang semakin memperuncing ketegangan di kawasan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di wilayah tersebut. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan ketidakstabilan ekonomi global.
