Karya Indonesia — Presiden AS, Donald Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz setelah perundingan gencatan senjata dengan Iran mengalami kebuntuan.
Langkah ini disebut sebagai upaya menekan Teheran agar membuka kembali jalur strategis tersebut sebagai lintasan utama perdagangan energi dunia.
Blokade yang dilakukan Amerika Serikat tidak hanya bersifat simbolis, melainkan dijalankan melalui tiga strategi utama yang melibatkan kekuatan militer dan pengendalian jalur laut.
1. Pengerahan Kekuatan Militer Besar
Langkah pertama adalah pengerahan kekuatan militer dalam jumlah signifikan. Lebih dari 15 kapal perang AS dikerahkan untuk menjaga dan mengontrol perairan di sekitar Selat Hormuz.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kapal serbu amfibi USS Tripoli, yang membawa jet tempur siluman F-35B Lightning II serta pesawat angkut militer MV-22 Osprey.
Kapal-kapal ini ditempatkan di dekat pelabuhan dan wilayah pesisir Iran guna memperkuat kontrol militer di kawasan tersebut.
2. Pencegatan Kapal yang Melintas
Strategi kedua adalah membatasi lalu lintas kapal dari dan menuju Iran. Trump secara langsung memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mencegat kapal yang dianggap melanggar ketentuan blokade.
“Saya telah menginstruksikan Angkatan Laut kami untuk mencari dan mencegat setiap kapal di perairan internasional yang telah membayar pungutan kepada Iran,” ujar Trump.
Sementara itu, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melalui pengumuman kepada pelaut menyebutkan bahwa kapal yang melintas tanpa izin berisiko dicegat, dialihkan, bahkan ditahan.
3. Operasi Pembersihan Ranjau Laut
Langkah ketiga adalah memastikan keamanan jalur pelayaran melalui operasi pembersihan ranjau laut.
Dua kapal perusak AS, yakni USS Frank E. Peterson Jr. dan USS Michael Murphy, dilaporkan telah dikerahkan ke kawasan Teluk Persia untuk menjalankan misi tersebut.
Operasi ini dilakukan menyusul klaim bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) telah menebar ranjau di perairan Selat Hormuz, meski lokasi pastinya belum dapat dipastikan.
Jalur Vital Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Setiap gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketegangan geopolitik secara luas.
Blokade ini menandai peningkatan signifikan dalam konflik AS–Iran, sekaligus membuka risiko eskalasi militer yang lebih besar di kawasan Timur Tengah.
