Karya Indonesia – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Senin (3/11/2025) waktu setempat atau Selasa pagi waktu Indonesia.
Kenaikan terjadi setelah para senator mencapai langkah penting menuju kesepakatan untuk mengakhiri penutupan (shutdown) pemerintahan federal yang telah memukul kepercayaan pasar selama beberapa pekan terakhir.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 381,53 poin atau 0,81% ke level 47.368,63, sedangkan S&P 500 menguat 1,54% menjadi 6.832,43. Sementara itu, Nasdaq Composite yang sarat saham teknologi melonjak 2,27% ke 23.527,17.
Kenaikan indeks dipimpin oleh saham-saham teknologi besar seperti Nvidia, Broadcom, dan Microsoft. Saham Microsoft bahkan naik 1,9%, memutus tren penurunan delapan hari berturut-turut—periode penurunan terpanjang sejak 2011.
Analis menyebut bahwa peluang berakhirnya shutdown meningkatkan selera risiko (risk appetite) investor, setelah pekan sebelumnya pasar tertekan oleh kekhawatiran terhadap valuasi tinggi saham kecerdasan buatan (AI) dan ketidakpastian fiskal.
“Kekhawatiran pekan lalu memang masuk akal, tetapi setidaknya satu dari tiga kekhawatiran utama kini telah keluar dari radar, dan itu hal penting,” ujar Tim Holland, Chief Investment Officer di Orion, dikutip CNBC.
Langkah positif di Senat juga memperkuat optimisme pasar. Sebuah langkah prosedural untuk memungkinkan pemungutan suara lanjutan atas rancangan anggaran federal telah disetujui dengan minimal 60 suara, termasuk delapan senator Partai Demokrat yang menentang garis partai mereka untuk mendukung kesepakatan tersebut.
Sebelumnya, kekhawatiran mengenai shutdown telah menekan sentimen konsumen AS ke level terendah dalam lebih dari tiga tahun, mendekati titik terburuk dalam sejarah, berdasarkan survei University of Michigan yang dirilis Jumat lalu.
Dampak penutupan juga terasa pada sektor ekonomi karena sejumlah data makroekonomi penting, seperti indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI), terpaksa ditunda perilisannya.
Dalam sepekan terakhir, Nasdaq tercatat mengalami penurunan sekitar 3%, menjadi kinerja mingguan terburuk sejak aksi jual akibat perang tarif pada April. Sementara S&P 500 dan Dow Jones terkoreksi lebih dari 1%.
“November menjadi bulan yang bergejolak bagi aset berisiko,” lanjut Holland, mengacu pada kombinasi kekhawatiran shutdown, valuasi pasar, dan potensi gelembung AI sebagai faktor utama gejolak pasar.
Dengan langkah positif di Senat dan meningkatnya harapan tercapainya kesepakatan anggaran, investor kini berharap volatilitas pasar akan mulai mereda menjelang akhir tahun.
