Karya Indonesia — Universitas Bosowa (Unibos) turut ambil bagian dalam kegiatan International Community Service yang digelar di Laboratory School, Kasetsart University Kamphaeng Saen (KUKS), Thailand, pada Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengabdian masyarakat internasional yang melibatkan dosen dari 14 perguruan tinggi Indonesia di bawah naungan Himpunan Dosen Pendidikan Guru Sekolah Dasar Indonesia (HDPGSDI).
Universitas Bosowa mengirimkan dua dosen dari Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra, yakni Dr. Burhan, M.Pd. dan Achmad Fajar Muhammad, S.Pd., M.Pd.
Dalam pelaksanaan pembelajaran di Laboratory School KUKS, keduanya berkolaborasi dengan Prof. Agustan dari Universitas Muhammadiyah Makassar untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia kepada siswa kelas IV.
Rombongan pengabdian internasional berangkat dari Jakarta menuju Thailand pada 4 Agustus 2026. Salah satu agenda utama dilaksanakan di Laboratory School KUKS yang terletak di kawasan Kamphaeng Saen, sekitar dua jam perjalanan dari Bangkok.
Memperkenalkan Indonesia melalui Budaya
Dalam sesi pembelajaran, para dosen memperkenalkan Indonesia melalui tiga aspek budaya, yakni tarian tradisional, bahasa daerah, dan pakaian tradisional.
Materi disampaikan dengan pendekatan interaktif agar siswa dapat mengenal Indonesia tidak hanya melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman visual dan praktik secara langsung.
Para siswa diperkenalkan pada Indonesia sebagai negara yang memiliki 38 provinsi dengan sekitar 1.340 kelompok etnis serta ratusan bahasa daerah.
Kekayaan tersebut kemudian diperkaya dengan contoh budaya Sulawesi Selatan sehingga siswa memperoleh gambaran mengenai keberagaman yang hidup di Indonesia.
Salah satu momen yang menarik perhatian siswa adalah ketika Achmad Fajar Muhammad dan Dr. Burhan memperkenalkan pakaian tradisional Sulawesi Selatan. Keduanya mengenakan busana berbahan sutra dengan corak aksara Lontara.
Busana tersebut menjadi lebih dari sekadar pakaian. Kehadirannya di ruang kelas menjadi sarana untuk menjelaskan identitas budaya Sulawesi Selatan, termasuk keberadaan aksara Lontara sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat setempat.
Prof. Agustan kemudian melengkapi sesi melalui penjelasan dan interaksi bersama siswa mengenai pentingnya mengenali serta menghargai perbedaan budaya. Kolaborasi ketiga akademisi tersebut membuat kegiatan berlangsung dinamis dan komunikatif.
Praktik Pendidikan Budaya Unibos Diperkenalkan di Thailand
Tidak hanya memperkenalkan budaya Indonesia, tim Universitas Bosowa juga berbagi pengalaman mengenai praktik pendidikan budaya yang diterapkan di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra Unibos.
Dr. Burhan dan Achmad Fajar Muhammad menjelaskan bahwa pembelajaran budaya di lingkungan kampus tidak berhenti pada pemahaman teoritis.
Mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mengekspresikan, mempraktikkan, dan melestarikan budaya melalui aktivitas pembelajaran maupun luaran mata kuliah.
Salah satu bentuk praktik tersebut ditunjukkan melalui pementasan tari tradisional mahasiswa Universitas Bosowa.
Kegiatan itu menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa untuk mengenal dan mempraktikkan seni tradisional sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap keberlanjutan budaya, khususnya budaya Sulawesi Selatan.
Praktik tersebut dinilai relevan dalam pendidikan calon pendidik karena guru memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan nilai dan identitas budaya kepada generasi muda.
Pendidikan, dalam konteks tersebut, tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan akademik. Pendidikan juga dapat menjadi ruang untuk mempertahankan bahasa, seni, nilai, identitas, dan warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Teknologi Maju, Identitas Budaya Tetap Terjaga
Pada penghujung kegiatan, para dosen menyampaikan pesan kepada siswa mengenai pentingnya menjaga identitas budaya di tengah perkembangan teknologi.
Kemajuan teknologi, menurut mereka, tidak semestinya membuat generasi muda meninggalkan akar budayanya.
Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai media untuk mempelajari, mendokumentasikan, mempromosikan, dan memperluas jangkauan pengenalan budaya kepada masyarakat dunia.
“Di tengah perkembangan teknologi, kita tetap perlu mengenal, mempelajari, dan menjaga budaya. Teknologi dapat terus berkembang, tetapi identitas dan warisan budaya harus tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.”
Pesan tersebut mendapat respons positif dari siswa kelas IV Laboratory School KUKS. Antusiasme terlihat selama proses pembelajaran dan interaksi berlangsung.
Pertemuan antara akademisi Indonesia dan siswa Thailand tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi agenda pengabdian masyarakat. Kegiatan berkembang menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan budaya yang mempertemukan pengalaman pendidikan dari dua negara.
Perkuat Jejaring Perguruan Tinggi Indonesia
Keterlibatan 14 perguruan tinggi Indonesia dalam kegiatan International Community Service di bawah HDPGSDI memperlihatkan pentingnya kolaborasi antarkampus dalam mengembangkan pelaksanaan tridarma perguruan tinggi pada tingkat internasional.
Bagi Universitas Bosowa, keikutsertaan Dr. Burhan dan Achmad Fajar Muhammad menjadi bagian dari langkah memperkuat internasionalisasi tridarma perguruan tinggi sekaligus memperkenalkan praktik pendidikan serta kekayaan budaya Sulawesi Selatan di lingkungan internasional.
Kolaborasi dengan Prof. Agustan dari Universitas Muhammadiyah Makassar serta akademisi dari berbagai perguruan tinggi lainnya juga membuka ruang untuk memperluas jejaring kelembagaan dan membangun hubungan akademik antara Indonesia dan Thailand.
Melalui kegiatan tersebut, budaya Indonesia hadir langsung di ruang kelas Thailand. Tari tradisional, bahasa daerah, busana sutra, aksara Lontara, hingga praktik pendidikan berbasis budaya menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa Laboratory School KUKS.
Kegiatan International Community Service ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan kerja sama internasional di bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan pertukaran budaya.
Bagi Universitas Bosowa dan HDPGSDI, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk membawa praktik pendidikan serta kekayaan budaya Indonesia semakin dikenal di tingkat global.
