Karya Indonesia – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan akan memasukkan tuntutan kompensasi dari Iran dalam setiap pembahasan untuk mengakhiri konflik kedua negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya. Ia menyebut tuntutan kompensasi berkaitan dengan kerugian serta korban dalam berbagai konflik yang menurutnya melibatkan Iran selama beberapa dekade.
“Iran meminta kompensasi atas kerusakan yang mereka alami selama konflik militer lima bulan terakhir. Saya juga menuntut kompensasi dari Iran,” tulis Trump, seperti dilansir AFP, Selasa (11/8/2026).
Trump kemudian merujuk pada sejumlah serangan yang menurutnya terkait dengan Teheran, termasuk pemboman terhadap USS Cole pada 2000. Ia juga menyebut keluarga korban demonstran yang tewas dalam berbagai peristiwa di Iran.
“Saya telah menginstruksikan perwakilan saya untuk memasukkan ini dengan tegas ke dalam setiap, dan semua, negosiasi di masa mendatang,” tegasnya.
Trump Pilih Tekanan Ekonomi
Pernyataan tersebut muncul di tengah upaya Washington dan Teheran mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung selama beberapa bulan.
Trump sebelumnya sempat mengeluarkan ancaman serangan lebih lanjut terhadap Iran, termasuk kemungkinan menyasar infrastruktur. Namun, dalam perkembangan berikutnya, Presiden AS tersebut mengisyaratkan bahwa jalur diplomasi masih terbuka dan kesepakatan untuk mengakhiri konflik memungkinkan tercapai.
Sehari sebelum pernyataan mengenai kompensasi tersebut, Trump juga mengatakan dirinya mengambil pendekatan yang lebih tenang dalam menghadapi konflik dengan Iran.
Trump mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat dapat meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran sebagai alternatif dari serangan militer lanjutan.
Iran Ajukan Syarat
Di sisi lain, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan sebagai syarat dalam proses penyelesaian konflik.
Teheran meminta Amerika Serikat mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran dan mencabut sanksi terhadap sektor minyak. Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang mereka klaim timbul akibat serangan militer AS.
Situasi tersebut membuat proses negosiasi menghadapi tantangan. Perbedaan tuntutan antara Washington dan Teheran masih menjadi salah satu persoalan utama dalam upaya mencapai kesepakatan.
Sementara itu, ketegangan di Selat Hormuz turut memberikan dampak terhadap perekonomian global. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Jika kebuntuan diplomasi berlanjut, dampaknya berpotensi semakin luas, terutama terhadap harga energi, perdagangan internasional, dan perekonomian negara-negara yang bergantung pada jalur pelayaran tersebut.
Kini, perhatian dunia tertuju pada langkah Washington dan Teheran dalam melanjutkan komunikasi diplomatik serta mencari formula penyelesaian konflik yang dapat diterima kedua belah pihak.
