Karya Indonesia – Sejumlah peneliti keamanan siber mengungkap tiga kerentanan baru yang berpotensi membahayakan pengguna komputer berbasis Windows.
Celah tersebut bahkan dapat membuka peluang bagi penyerang untuk memperoleh hak istimewa tingkat tinggi pada sistem yang sebelumnya telah mendapatkan pembaruan keamanan.
Tiga temuan tersebut mencakup eksploitasi konfigurasi memori yang dijuluki “Download more RAM”, kerentanan zero-day “ShieldBreak”, serta serangan “plug and pwn” yang mengeksploitasi mekanisme pengenalan perangkat keras dan pemasangan driver otomatis Windows.
Temuan tersebut dipresentasikan dalam sejumlah konferensi keamanan siber, termasuk USENIX Security Symposium 2026 di Baltimore, Amerika Serikat.
“Download more RAM” Manfaatkan Celah Konfigurasi Memori
Salah satu kerentanan ditemukan oleh peneliti dari University of Birmingham dan Durham University. Serangan ini memanfaatkan kelemahan pada chip Serial Presence Detect (SPD) yang terdapat pada modul memori komputer.
Chip SPD menyimpan informasi konfigurasi RAM yang digunakan sistem. Menurut penelitian tersebut, perlindungan terhadap perubahan data pada chip tersebut dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi informasi yang diterima komputer.
Dalam skenario serangan, pelaku dapat membuat sistem menerima informasi konfigurasi memori yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Manipulasi tersebut kemudian berpotensi memengaruhi cara pengendali memori mengatur alamat memori.
Kondisi ini dapat membuka peluang bagi penyerang untuk mengganggu mekanisme keamanan sistem operasi, termasuk perlindungan berbasis virtualisasi dan perangkat lunak keamanan.
Kerentanan tersebut tercatat sebagai CVE-2026-23670. Microsoft disebut telah merilis perbaikan melalui pembaruan keamanan April 2026. Sejumlah perangkat lunak terkait, termasuk Corsair iCue dan HWiNFO, juga telah mendapatkan pembaruan untuk mengatasi masalah tersebut.
Profesor Tom Chothia dari University of Birmingham mengatakan skenario eksploitasi dapat dilakukan tanpa kehadiran fisik penyerang di depan komputer target.
Zero-Day ShieldBreak Ancam Windows
Ancaman kedua datang dari kerentanan yang diberi nama ShieldBreak dan dilacak sebagai CVE-2026-50656.
Kerentanan tersebut dikategorikan sebagai elevation of privilege pada Microsoft Defender. Jika berhasil dimanfaatkan, celah ini dapat memungkinkan penyerang meningkatkan hak aksesnya hingga tingkat sistem.
ShieldBreak disebut dapat berdampak pada perangkat yang menggunakan Windows 10, Windows 11, maupun Windows Server, dengan Microsoft Defender dalam kondisi aktif.
Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan perangkat lunak keamanan tidak selalu berarti sistem terbebas dari risiko. Komponen keamanan itu sendiri tetap dapat menjadi target apabila ditemukan kelemahan yang memungkinkan mekanisme perlindungannya dilewati.
Serangan “Plug and Pwn” Bisa Manfaatkan RDP
Kerentanan ketiga diungkap peneliti keamanan Alejandro Hernando dan Borja Martinez dalam ajang DEF CON 34 di Las Vegas.
Serangan yang mereka namai “plug and pwn” mengeksploitasi proses Windows ketika sistem mengenali perangkat keras dan memasang driver secara otomatis.
Yang membuat temuan ini menjadi perhatian adalah skenario serangan tidak selalu membutuhkan hak administrator maupun pengguna yang sedang masuk ke komputer.
Dalam demonstrasi penelitian, mekanisme tersebut dapat dimanfaatkan melalui koneksi Remote Desktop Protocol (RDP). Artinya, perangkat keras USB tidak harus benar-benar ditancapkan secara fisik ke komputer target untuk menjalankan skenario yang didemonstrasikan peneliti.
Eksploitasi terhadap mekanisme instalasi driver otomatis dapat menjadi persoalan serius karena driver memiliki akses penting terhadap sistem operasi.
Pengguna Diminta Tidak Menunda Pembaruan
Rangkaian temuan tersebut kembali menunjukkan pentingnya pembaruan keamanan pada perangkat Windows. Beberapa kerentanan yang telah mendapatkan perbaikan sebaiknya tidak diabaikan, terutama karena penyerang biasanya memanfaatkan sistem yang belum diperbarui.
Pengguna juga disarankan hanya memasang perangkat lunak dan driver dari sumber tepercaya serta membatasi akses jarak jauh yang tidak diperlukan.
Bagi pengelola sistem dan perusahaan, pemantauan koneksi RDP, penerapan prinsip hak akses minimum, serta pembaruan sistem secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.
Meski ketiga penelitian tersebut memiliki metode dan karakteristik berbeda, benang merahnya sama: sistem yang sudah diperbarui sekalipun tetap membutuhkan lapisan perlindungan tambahan, karena celah keamanan dapat ditemukan pada komponen yang sebelumnya dianggap aman.
