Karya Indonesia — Pengembangan kemampuan pesepak bola usia dini mulai diarahkan pada pola pembinaan yang lebih terukur.
Akademisi Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan pemetaan dan evaluasi kemampuan teknik dasar menggiring bola (dribbling) terhadap pemain U-14 Sekolah Sepakbola (SSB) Telkom Makassar dengan menggunakan pendekatan berbasis data kuantitatif.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi metode pembinaan sepak bola usia muda.
Jika sebelumnya penilaian kemampuan pemain lebih banyak bertumpu pada pengamatan pelatih, kini proses evaluasi dilengkapi dengan data objektif yang dapat digunakan sebagai dasar penyusunan program latihan.
Sebanyak 30 pemain U-14 SSB Telkom Makassar yang terdaftar aktif menjadi peserta dalam evaluasi tersebut.
Kelompok usia ini dinilai berada pada fase penting dalam perkembangan kemampuan motorik, sehingga pembentukan teknik dasar, koordinasi gerak, kontrol bola, serta efisiensi pergerakan perlu mendapatkan perhatian sejak dini.
Program ini dilaksanakan secara kolaboratif oleh tim peneliti Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) UNM yang terdiri atas M. Said Zainuddin, Sudirman, dan Ahmad Zakaria.
Tim akademisi bekerja bersama jajaran pelatih SSB Telkom Makassar untuk memastikan proses pengambilan data berlangsung secara sistematis dan terstandar.
Dalam proses pengukuran, kemampuan dribbling pemain diuji melalui lintasan rintangan zig-zag menggunakan enam cone.
Waktu tempuh setiap pemain dicatat dengan stopwatch digital sehingga diperoleh gambaran kuantitatif mengenai kemampuan menggiring bola masing-masing atlet.
Hasil pemetaan menunjukkan adanya variasi kemampuan yang cukup beragam di antara para pemain. Sebanyak 40 persen pemain berada dalam kategori sedang dengan rata-rata waktu tempuh 12,84 detik.
Sementara itu, 30 persen pemain masuk kelompok kemampuan unggul, yang terdiri atas kategori baik sekali sebesar 6,7 persen dan kategori baik sebesar 23,3 persen.
Adapun 30 persen lainnya berada pada kategori bawah, yakni kategori kurang sebesar 20 persen dan kurang sekali sebesar 10 persen.
Data tersebut juga memperlihatkan adanya selisih performa yang cukup mencolok. Pemain dengan catatan waktu tercepat mampu menyelesaikan lintasan dalam 10,30 detik, sedangkan waktu terlama mencapai 15,28 detik.
Dengan demikian, terdapat rentang performa sebesar 4,98 detik di antara pemain tercepat dan terlambat.
Temuan tersebut memberikan informasi penting bagi tim pelatih dalam menentukan kebutuhan latihan setiap pemain.
Perbedaan catatan waktu dapat menjadi dasar untuk mengidentifikasi aspek teknik yang masih perlu diperbaiki, termasuk kemampuan melakukan perlambatan gerak (deceleration) dan kembali melakukan akselerasi (re-acceleration) ketika menghadapi perubahan arah.
Pendekatan berbasis data tersebut sekaligus membuka peluang bagi SSB Telkom Makassar untuk meninggalkan pola latihan yang seragam bagi seluruh pemain.
Program latihan dapat dikembangkan secara lebih individual dengan mempertimbangkan kondisi, kemampuan, serta kelemahan teknik masing-masing atlet.
Dengan metode pembelajaran yang berdiferensiasi, pemain yang membutuhkan peningkatan kontrol bola dapat memperoleh porsi latihan yang berbeda dengan pemain yang lebih membutuhkan latihan perubahan arah, kecepatan, maupun akselerasi.
Tim akademisi UNM juga mendorong penerapan modul latihan yang terintegrasi dan sistematis agar hasil evaluasi tidak berhenti pada tahap pengukuran.
Data yang diperoleh diharapkan menjadi baseline yang dapat digunakan untuk memantau perkembangan pemain secara berkala.
Penerapan latihan secara konsisten dinilai penting untuk membantu proses otomatisasi penguasaan bola (ball mastery).
Pada usia pembinaan, pengulangan gerakan yang tepat menjadi bagian penting agar pemain tidak terbiasa melakukan pola gerak yang kurang efektif.
Melalui pendekatan sport science, pembinaan pemain usia dini diharapkan tidak hanya berorientasi pada hasil pertandingan, tetapi juga pada proses pembentukan fondasi teknik yang kuat.
Evaluasi berkala dapat membantu pelatih mengambil keputusan berdasarkan perkembangan nyata pemain, bukan semata-mata berdasarkan persepsi.
Inisiatif akademisi UNM bersama SSB Telkom Makassar ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pengetahuan dalam pembinaan olahraga usia muda.
Penggunaan data dalam proses latihan diharapkan mampu menciptakan sistem pembinaan yang lebih objektif, terarah, berkelanjutan, sekaligus mendukung lahirnya pesepak bola muda yang memiliki kemampuan teknik dan efisiensi gerak lebih baik.
