Menu

Dark Mode
Dua Pelaku Pelecehan Seksual Anak Disabilitas di Jakarta Timur Ditangkap Polisi

Internasional

Berbulan-bulan Terganggu, Negara Teluk Mulai Cari Jalur Alternatif Hindari Selat Hormuz

Perbesar

Karya Indonesia – Ketidakpastian yang berlangsung berbulan-bulan di sekitar Selat Hormuz mendorong sejumlah negara pengekspor energi di kawasan Teluk Persia mempercepat upaya mencari jalur alternatif untuk menjaga kelancaran distribusi minyak ke pasar global.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sebelum konflik Iran dan Amerika Serikat meningkat, sekitar seperlima ekspor minyak mentah global melewati perairan sempit yang memisahkan Iran dan Oman tersebut menuju berbagai pasar di Asia, Eropa, hingga Amerika Utara.

Gangguan berkepanjangan membuat negara-negara produsen minyak mulai mengandalkan infrastruktur alternatif. Arab Saudi menjadi salah satu negara yang relatif berhasil mengurangi ketergantungannya terhadap Selat Hormuz.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyatakan bahwa Angkatan Laut AS telah menguasai kawasan tersebut. Dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih, Senin (10/8), Trump mengatakan pihaknya telah melakukan operasi penyapuan ranjau di sepanjang selat.

Di tengah situasi tersebut, Arab Saudi memanfaatkan East-West Pipeline, jaringan pipa yang menghubungkan ladang minyak di wilayah timur kerajaan dengan pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan minyak Saudi dikirim ke pasar internasional tanpa harus melewati Selat Hormuz.

Data PortWatch yang dikelola Dana Moneter Internasional (IMF) menunjukkan perubahan signifikan dalam pola pengiriman. Pada April dan Mei, volume kargo menuju Arab Saudi melalui pesisir Teluk turun drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat bersamaan, aktivitas pengiriman melalui Laut Merah justru meningkat.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa jaringan pipa milik Arab Saudi bukan lagi sekadar infrastruktur cadangan ketika terjadi krisis. Jalur tersebut kini menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga kesinambungan ekspor energi ketika jalur utama mengalami gangguan.

Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya bebas risiko. Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran sebelumnya telah menyatakan ancaman terhadap pelayaran di kawasan Laut Merah dan bahkan menyebut kemungkinan melakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

UEA Hadapi Tantangan Berbeda

Uni Emirat Arab (UEA) juga memiliki infrastruktur yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz. Salah satunya adalah Abu Dhabi Crude Oil Pipeline (ADCOP) yang membawa minyak dari Habshan menuju Fujairah di pesisir timur UEA, sehingga tidak perlu melewati Selat Hormuz.

Fujairah dan Khor Fakkan juga memiliki fasilitas pelabuhan laut dalam yang memungkinkan kapal mengakses jalur perdagangan internasional melalui Teluk Oman.

Namun, posisi geografis tersebut belum sepenuhnya menjamin keamanan. Pelabuhan Fujairah dan kapal-kapal di sekitar pesisir timur UEA tetap berada dalam jangkauan serangan rudal maupun drone.

Selain persoalan keamanan, keterbatasan kapasitas menjadi tantangan lainnya. Pelabuhan alternatif UEA belum mampu menggantikan volume pengiriman dalam jumlah besar yang sebelumnya melalui fasilitas utama di kawasan Teluk Persia.

Data PortWatch menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan pesisir Teluk Persia UEA pada April dan Mei turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Aktivitas di pelabuhan alternatif juga mengalami penurunan, menunjukkan bahwa pengalihan rute tidak otomatis mampu menggantikan seluruh volume perdagangan yang terganggu.

Alternatif Jangka Panjang Butuh Investasi Besar

Sejumlah ekonom dan analis energi menilai negara-negara Teluk membutuhkan solusi yang lebih permanen apabila gangguan terhadap Hormuz berlangsung lama.

Salah satu gagasan yang dibahas adalah pembangunan jaringan pipa yang menghubungkan wilayah Irak dengan pelabuhan di Oman maupun Yordania. Alternatif lainnya adalah mengalihkan kapal melalui jalur yang jauh lebih panjang dengan memutari Afrika dan melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Namun, pilihan tersebut membutuhkan investasi besar dan tidak dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu singkat.

Ekonom Hassan Mansour memperkirakan pembangunan pipa Basra-Aqaba dapat membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun dengan biaya mencapai US$8 miliar hingga US$10 miliar. Sementara jaringan Basra-Oman diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$10 miliar hingga US$15 miliar.

Pengalihan kapal melalui Tanjung Harapan juga bukan solusi murah. Jarak tempuh yang jauh lebih panjang dapat menambah biaya transportasi hingga ratusan ribu dolar dalam setiap perjalanan.

“Intinya, proyek-proyek ini tidak dapat menyelesaikan masalah pasar minyak dalam waktu dekat,” ujar Mansour.

Hindari Hormuz, Hadapi Bab al-Mandab

Persoalan lain muncul ketika negara-negara Teluk mencoba mengalihkan ekspor melalui Laut Merah. Jalur tersebut tetap memiliki titik rawan, terutama di kawasan Bab al-Mandab.

Kapal yang menuju Terusan Suez harus melewati selat tersebut, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi lokasi ancaman dan serangan terhadap pelayaran komersial.

Situasi ini menciptakan dilema baru: menghindari satu titik sempit justru dapat membuat perdagangan energi bergantung pada titik rawan lainnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyuarakan pentingnya membangun jalur energi alternatif yang tidak bergantung pada Hormuz maupun Bab al-Mandab. Salah satu gagasan yang dikemukakan adalah jaringan pipa minyak dan gas yang melintasi Semenanjung Arab menuju Israel untuk kemudian diteruskan ke pelabuhan di Laut Mediterania.

Namun, gagasan tersebut juga menghadapi tantangan geopolitik dan keamanan yang kompleks.

Analis politik yang berbasis di Teheran, Rahman Ghahremanpour, menilai upaya mengurangi ketergantungan terhadap Hormuz sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Konflik saat ini, menurut dia, justru memperlihatkan bahwa jalur alternatif pun memiliki kerentanan.

“Pipa-pipa ini dapat mengurangi dampak Selat Hormuz, tetapi dalam masa perang, pipa-pipa itu sendiri rentan,” ujarnya.

Menurut Ghahremanpour, persoalan tersebut jauh lebih rumit bagi Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Ketiga negara tersebut tidak mempunyai akses langsung ke perairan di luar Teluk Persia sehingga pembangunan jalur alternatif membutuhkan kerja sama dengan negara lain.

Ketergantungan Hormuz Belum Bisa Dihilangkan

Meskipun berbagai alternatif mulai dikembangkan, ketergantungan terhadap Selat Hormuz masih sangat besar.

Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi melintasi selat tersebut setiap hari. Kapasitas jalur alternatif yang tersedia saat ini masih jauh dari cukup untuk menggantikan seluruh volume tersebut.

Karena itu, pembangunan jaringan pipa baru, penguatan pelabuhan, maupun pengalihan jalur pelayaran lebih tepat dipandang sebagai upaya mengurangi risiko, bukan solusi instan untuk menggantikan Hormuz.

Ghahremanpour mengingatkan bahwa infrastruktur energi tidak hanya berupa pipa. Pelabuhan dan terminal juga dapat menjadi sasaran dalam konflik.

“Pipa saja tidak dapat menyelesaikan masalah. Pelabuhan, terminal, dan pipa juga dapat menjadi sasaran serangan,” katanya.

Di sisi lain, penutupan Hormuz juga membawa risiko bagi Iran. Semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar kemungkinan pasar global menganggap krisis tersebut sebagai persoalan jangka panjang.

Menurut Ghahremanpour, kondisi tersebut berpotensi mendorong terbentuknya koalisi internasional yang lebih luas untuk menghadapi Teheran.

“Jika Iran mempertahankan penutupan Hormuz terlalu lama, anggapan bahwa gangguan tersebut hanya sementara dapat menghilang dan koalisi internasional yang jauh lebih luas dapat terbentuk melawan Teheran,” ujarnya.

Situasi ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz bukan hanya persoalan jalur pelayaran, tetapi juga menjadi titik penting yang menentukan stabilitas pasokan energi dan perekonomian dunia.

Selama konflik belum menemukan penyelesaian, negara-negara produsen energi akan terus menghadapi kebutuhan untuk menyeimbangkan keamanan, kapasitas infrastruktur, biaya logistik, dan kepastian pasar global.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Trump Tuntut Kompensasi dari Iran dalam Negosiasi Perdamaian

11 August 2026 - 13:49 WIB

Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Duel Dua Raksasa Perebutkan Mahkota Dunia

16 July 2026 - 15:29 WIB

Inggris vs Argentina: Duel Rival Abadi Perebutkan Tiket Final Piala Dunia 2026

15 July 2026 - 11:46 WIB

Prabowo dan PM Modi Canangkan “Tahun Tagore-Dewantara”, Perkuat Diplomasi Pendidikan Indonesia-India

8 July 2026 - 11:33 WIB

Trump Klaim Kesepakatan Baru dengan Iran Akan Lebih Baik dari JCPOA

21 April 2026 - 11:16 WIB

Trending on Internasional