Karya Indonesia – Ketegangan konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkat.
Teheran kini dilaporkan mulai mengubah strategi militernya dengan menggunakan rudal berhulu ledak lebih besar dalam operasi serangan terbaru.
Komandan Angkatan Udara Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, menyatakan bahwa Iran akan meningkatkan kekuatan serangannya setelah mengklaim berhasil melemahkan lapisan sistem pertahanan udara musuh.
“Mulai sekarang, tidak ada rudal dengan hulu ledak kurang dari satu ton yang akan diluncurkan. Durasi peluncuran dan level gelombang serangan akan meningkat, dan jangkauannya juga akan lebih luas,” ujar Mousavi melalui unggahannya di platform X, seperti dikutip WANA News Agency, Selasa (10/3/2026).
Gelombang Serangan Baru
Pada Senin sebelumnya, IRGC merilis rekaman video yang menunjukkan peluncuran sejumlah rudal ke arah target di Israel serta aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer Iran yang disebut Operasi Janji Setia 4.
IRGC menyebut gelombang serangan ke-31 dalam operasi tersebut dilakukan menggunakan rudal berat dan didedikasikan kepada pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
“Gelombang ke-31 Operasi Janji Setia 4 telah dilancarkan secara kuat terhadap target Amerika-Zionis menggunakan rudal sangat berat,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip jaringan media Al Mayadeen.
Menurut laporan media tersebut, Iran menggunakan rudal balistik Khorramshahr-4, salah satu sistem persenjataan paling canggih yang dimiliki Teheran.
Rudal ini dilaporkan memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer dan mampu membawa hulu ledak seberat 1.500 kilogram. Iran mengklaim rudal tersebut dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara modern.
Sebelumnya, rudal yang sama disebut digunakan dalam serangan yang menargetkan Bandara Ben Gurion di wilayah Tel Aviv.
Iran Perluas Daftar Target
Sementara itu, laporan Fars News Agency yang dikutip Anadolu Agency menyebut Iran mulai memperluas daftar target potensial serangan mereka.
Jika sebelumnya fokus utama adalah aset militer AS dan Israel di Timur Tengah, kini Iran juga mempertimbangkan target ekonomi milik Amerika Serikat.
Perubahan strategi tersebut disebut sebagai respons atas serangan udara yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap fasilitas energi di sekitar Teheran.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (8/3) dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas minyak, termasuk depot penyimpanan minyak Shahran Oil Depot, yang menyebabkan kerusakan signifikan dan memicu kebakaran besar.
Laporan Al Jazeera menyebutkan asap tebal terlihat membumbung di langit Teheran setelah fasilitas penyimpanan dan pusat transfer produksi minyak diserang.
Di tengah eskalasi konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran saat ini berada dalam posisi yang semakin lemah.
Dalam wawancara dengan CBS News yang dilansir Reuters, Trump mengatakan perang melawan Iran hampir selesai.
“Saya pikir perang sudah hampir selesai. Mereka tidak memiliki angkatan laut, komunikasi, maupun angkatan udara yang efektif,” kata Trump.
Ia juga menyinggung jalur strategis Selat Hormuz, dengan menyebut kapal-kapal telah kembali melintas di kawasan tersebut, namun Washington tengah mempertimbangkan langkah untuk mengambil kendali atas jalur tersebut.
