Menu ✖

Dark Mode
Dua Pelaku Pelecehan Seksual Anak Disabilitas di Jakarta Timur Ditangkap Polisi

Internasional

Trump Siap Akhiri Operasi Militer, Meski Selat Hormuz Belum Sepenuhnya Dibuka

Perbesar

Karya Indonesia — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menyatakan kesediaannya untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran, meskipun sebagian besar jalur strategis Selat Hormuz masih belum sepenuhnya terbuka.

Laporan tersebut diungkap oleh The Wall Street Journal, seperti dikutip The Times of Israel, Selasa (31/3/2026), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan AS.

Dalam laporan itu disebutkan, Trump dan para penasihatnya menilai operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz akan memakan waktu lama dan berpotensi memperpanjang konflik, melampaui target durasi 4–6 pekan yang sebelumnya ditetapkan Gedung Putih.

Alih-alih memprioritaskan pembukaan jalur pelayaran tersebut, Washington disebut memilih fokus menghancurkan sistem rudal dan kekuatan angkatan laut Iran, sebelum meningkatkan tekanan diplomatik kepada Teheran.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Penutupan sebagian wilayah tersebut oleh Iran, sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel sejak akhir Februari, telah memicu lonjakan harga energi dunia.

Meski demikian, Trump tetap menunjukkan optimisme terhadap peluang penyelesaian konflik. Pada Senin (30/3), ia mengklaim telah terjadi “kemajuan besar” dalam proses negosiasi untuk mengakhiri perang.

Namun, Trump juga mengeluarkan peringatan keras. Ia menyatakan bahwa jika kesepakatan tidak segera tercapai dan Selat Hormuz tidak kembali dibuka, AS siap melanjutkan serangan besar-besaran terhadap infrastruktur vital Iran.

Pernyataan tersebut mempertegas pendekatan “tekanan maksimum” yang kini ditempuh Washington, yang memadukan operasi militer terbatas dengan ancaman eskalasi dan jalur diplomasi.

Sementara itu, laporan The New York Times menyebut upaya negosiasi semakin rumit akibat melemahnya struktur kepemimpinan Iran pasca-serangkaian serangan yang menewaskan sejumlah tokoh penting negara tersebut.

Kondisi itu dinilai menghambat kemampuan Teheran dalam mengambil keputusan strategis, sekaligus menyulitkan proses komunikasi dengan pihak-pihak yang memiliki otoritas penuh dalam perundingan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, AS juga dilaporkan telah mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah dalam sepekan terakhir. Langkah ini diyakini sebagai bagian dari strategi tekanan agar Iran segera menerima syarat-syarat yang diajukan Washington.

Situasi ini menempatkan konflik AS–Iran pada titik krusial, di mana kombinasi tekanan militer dan diplomasi intensif akan menentukan arah penyelesaian krisis dalam waktu dekat.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rudal Hantam Kompleks Aramco, Arab Saudi Balas Gempur Sanaa

15 October 2026 - 11:04 WIB

Dua WNI Terluka dalam Serangan Houthi di Riyadh, Kantor Aramco Ikut Terdampak

14 October 2026 - 10:55 WIB

53 Jemaah Umrah di Makassar Tertunda Berangkat, Penerbangan Lanjutan ke Madinah Dibatalkan

13 October 2026 - 09:53 WIB

Tentara Yaman Serang Posisi Houthi di Marib, Rebut Dua Bukit di Taiz

12 October 2026 - 09:46 WIB

Trump Kaitkan Demo Pelajar Prancis dengan Islam dan Migrasi, Tak Sertakan Bukti

7 October 2026 - 10:40 WIB

Trending on Internasional