Menu

Dark Mode
Dua Pelaku Pelecehan Seksual Anak Disabilitas di Jakarta Timur Ditangkap Polisi

Internasional

Sanksi AS Makin Menekan Iran, Antrean Panjang Mengular di SPBU Teheran

Perbesar

Karya Indonesia – Tekanan ekonomi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran semakin terasa di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Rentetan sanksi dan ancaman blokade terhadap jalur perdagangan Iran disebut mulai berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk ketersediaan bahan bakar.

Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di Teheran, Iran, pada Selasa (25/8/2026). Mobil dan sepeda motor tampak mengular untuk mendapatkan pasokan bensin.

Kondisi tersebut terjadi setelah Washington kembali memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan mengancam akan membawa Iran menuju isolasi ekonomi yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya.

“Ini akan berupa kombinasi isolasi ekonomi, yang belum pernah disaksikan dunia sebelumnya,” kata Bessent kepada jaringan televisi Newsmax, seperti dilansir AFP, Jumat (14/8/2026).

Bessent juga menyinggung keberlanjutan blokade di Selat Hormuz yang dinilai dapat membatasi arus barang dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Blokade berkelanjutan di Selat Hormuz akan mencegah apa pun masuk atau keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran,” ujarnya.

Tekanan tersebut datang ketika Iran sudah menghadapi persoalan ekonomi dalam waktu lama. Inflasi yang tinggi sebelumnya telah memberikan tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Sejumlah warga Teheran mengaku khawatir sanksi terbaru akan semakin memperburuk kondisi ekonomi.

“Sanksi memengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang menderita, baik mereka yang berkecukupan secara finansial maupun mereka yang lemah secara finansial,” kata warga Teheran, Mehdi Yazdian (55), kepada AFP.

Meski demikian, Yazdian menilai masyarakat Iran telah terbiasa menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi yang berlangsung selama puluhan tahun.

Menurutnya, pemerintah perlu mengambil langkah untuk menjaga harga kebutuhan masyarakat agar tidak semakin melonjak.

Kekhawatiran serupa disampaikan Kia Farahani (45), seorang guru Bahasa Inggris. Ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan perang secara langsung, tetapi memperkirakan tekanan ekonomi dapat menjadi persoalan yang lebih berat bagi masyarakat.

“Saya secara pribadi sama sekali tidak takut perang, karena ini adalah tanah air kami,” ujarnya.

Namun, ia memperingatkan tekanan ekonomi berkepanjangan berpotensi kembali memicu keresahan sosial.

Kebijakan terbaru Washington merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Pada Juli 2026, Departemen Keuangan AS sebelumnya telah memperluas sanksi terhadap jaringan pelayaran dan keuangan yang berkaitan dengan Iran.

Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya mengatakan bahwa salah satu prioritas Washington dalam konflik tersebut adalah menekan harga minyak dan bensin bagi masyarakat Amerika. Sementara itu, isu pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir disebut menjadi prioritas berikutnya.

Sikap tersebut berbeda dengan pernyataan Bessent pada awal Agustus yang menyebut kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi dicapai dalam waktu relatif singkat.

Ketidakpastian mengenai masa depan jalur perdagangan tersebut turut menjadi perhatian pasar energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Teheran tidak tinggal diam menghadapi tekanan Washington. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak ikut serta dalam kampanye sanksi ekonomi AS.

Iran menyatakan negara yang membantu penerapan kebijakan ekonomi Washington dapat dianggap sebagai musuh.

Rezaei bahkan mengancam Iran akan mengambil langkah lebih keras apabila negara-negara lain ikut terlibat dalam tekanan ekonomi tersebut.

“Jika mereka memulai tindakan semacam itu, kami tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun melintasi Teluk,” katanya, seperti dilansir Middle East Monitor.

Ia juga memperingatkan bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk Persia dapat dihentikan apabila konfrontasi semakin meningkat.

Tak hanya jalur utama, Rezaei menyebut jalur alternatif pengiriman minyak di luar kawasan Teluk juga berpotensi menjadi sasaran apabila konflik terus memburuk.

Saling ancam antara Washington dan Teheran menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memberikan efek luas karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global.

Bagi masyarakat Iran, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut hubungan politik antara dua negara. Dampaknya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harga kebutuhan meningkat dan akses terhadap bahan bakar menjadi semakin sulit.

Jika tekanan ekonomi dan gangguan perdagangan terus berlangsung, pemerintah Iran akan menghadapi tantangan besar untuk menjaga pasokan energi sekaligus menahan dampaknya terhadap masyarakat.

Di sisi lain, ancaman Iran untuk menghentikan aliran minyak dari kawasan Teluk berpotensi memperbesar risiko terhadap pasar energi global. Situasi ini membuat perkembangan konflik AS-Iran terus menjadi perhatian negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Kebijakan terbaru Washington merupakan bagian dari strategi untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Pada Juli 2026, Departemen Keuangan AS sebelumnya telah memperluas sanksi terhadap jaringan pelayaran dan keuangan yang berkaitan dengan Iran.

Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya mengatakan bahwa salah satu prioritas Washington dalam konflik tersebut adalah menekan harga minyak dan bensin bagi masyarakat Amerika. Sementara itu, isu pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir disebut menjadi prioritas berikutnya.

Sikap tersebut berbeda dengan pernyataan Bessent pada awal Agustus yang menyebut kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz berpotensi dicapai dalam waktu relatif singkat.

Ketidakpastian mengenai masa depan jalur perdagangan tersebut turut menjadi perhatian pasar energi global. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Teheran tidak tinggal diam menghadapi tekanan Washington. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak ikut serta dalam kampanye sanksi ekonomi AS.

Iran menyatakan negara yang membantu penerapan kebijakan ekonomi Washington dapat dianggap sebagai musuh.

Rezaei bahkan mengancam Iran akan mengambil langkah lebih keras apabila negara-negara lain ikut terlibat dalam tekanan ekonomi tersebut.

“Jika mereka memulai tindakan semacam itu, kami tidak akan membiarkan satu tetes minyak pun melintasi Teluk,” katanya, seperti dilansir Middle East Monitor.

Ia juga memperingatkan bahwa ekspor minyak melalui Selat Hormuz maupun kawasan Teluk Persia dapat dihentikan apabila konfrontasi semakin meningkat.

Tak hanya jalur utama, Rezaei menyebut jalur alternatif pengiriman minyak di luar kawasan Teluk juga berpotensi menjadi sasaran apabila konflik terus memburuk.

Saling ancam antara Washington dan Teheran menambah ketidakpastian terhadap pasokan energi dunia. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memberikan efek luas karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global.

Bagi masyarakat Iran, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut hubungan politik antara dua negara. Dampaknya mulai dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, terutama ketika harga kebutuhan meningkat dan akses terhadap bahan bakar menjadi semakin sulit.

Jika tekanan ekonomi dan gangguan perdagangan terus berlangsung, pemerintah Iran akan menghadapi tantangan besar untuk menjaga pasokan energi sekaligus menahan dampaknya terhadap masyarakat.

Di sisi lain, ancaman Iran untuk menghentikan aliran minyak dari kawasan Teluk berpotensi memperbesar risiko terhadap pasar energi global. Situasi ini membuat perkembangan konflik AS-Iran terus menjadi perhatian negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Facebook Comments Box

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Iran Ancam Negara yang Ikut Sanksi AS: Akan Dianggap sebagai Musuh

24 August 2026 - 13:08 WIB

Trump Klaim Selat Hormuz sebagai Wilayah Baru AS, Iran Balik Sebut Delusi

19 August 2026 - 09:47 WIB

Berbulan-bulan Terganggu, Negara Teluk Mulai Cari Jalur Alternatif Hindari Selat Hormuz

14 August 2026 - 10:32 WIB

Trump Tuntut Kompensasi dari Iran dalam Negosiasi Perdamaian

11 August 2026 - 13:49 WIB

Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Duel Dua Raksasa Perebutkan Mahkota Dunia

16 July 2026 - 15:29 WIB

Trending on Internasional